Sabtu, 21 Mei 2011

HADIR SEBAGAI PENGHIBUR (catatan seorang imam)

Akh..sahabat, sudah beberapa waktu aku hadir di tengah-tengahmu. Banyak kesempatan indah dan berharga yang saya dapatkan bersamamu, tetapi yang paling berharga adalah keterbukaan hatimu untuk menerima aku sebagai sahabat dalam menggeluti perjuangan iman bersama. Hal ini nampak dengan banyaknya sapaan dan ajakan untuk dijadikan sahabat dalam berbagai macam pergulatan hidup dan pengalaman iman. Ya, “menjadi sahabat”, sahabat yang membawa penghiburan; inilah mungkin ungkapan yang paling tepat untuk merumuskan inti kehadirannku di tengah-tengah orang lain, sebagai seorang imam yang masih “bau kencur”, dan mungkin juga kehadiranmu satu bagi yang lain.

Sahabat yang menghibur
Kehadiran kita bagi orang lain, khususnya bagi yang sedang “menderita” sangat berarti untuk memberi penghiburan. Penghiburan sendiri nampaknya sudah begitu biasa, bahkan karena begitu biasanya sampai kehilangan maknanya yang terdalam. Seorang Stevanie pernah begitu ragu-ragu untuk diajak mengunjungi Mama Yossie yang sudah hampir tiga bulan tergolek di Rumah Sakit oleh karena berbagai rombongan penyakit yang bersarang dalam tubuhnya. Stevanie begitu ragu karena tidak tahu kata-kata penghiburan macam apa yang mampu diucapkannya, atau pemberian apa yang paling tepat bagi Mama Yossie yang secara medis jelas tidak ada harapan sedikitpun untuk hidup. Namun akhirnya ia datang juga. Alangkah terkejutnya ia ketika tiba-tiba Mama Yossie memeluknya dengan haru dan mengungkapkan keterharuannya atas kehadirannya. Bukan lagi oleh-oleh yang diharapkan Mama Yossie, bukan juga kata-kata indah penuh penghiburan, namun ia masih mengharapkan seseorang yang mau "hadir" bersamanya, hadir untuk menghadapi kenyataan hidupnya itu. Inilah yang begitu ia rindukan. Saat itu Stevanie sedikit terbuka akan apa itu penghiburan yang sesungguhnya.

Penghiburan Kristiani
Penghiburan ternyata bukan pertama-tama bantuan psikologis atau emosianal, yang mengalihkan perhatian orang dari kematian pada dunia akhirat. Banyak orang dalam memberi penghiburan seringkali memberi harapan akan “hidup yang lebih bahagia nanti”, atau “hidup yang akan datang” kepada orang yang memang sudah “hopeless”. Hiburan dalam rangka iman kristiani mungkin dapat diartikan sebagai daya kekuatan yang membuat orang menjadi mampu untuk penuh kepercayaan dan tanpa menipu diri menghayati hidupnya dalam segala kekayaan, hidup yang terbatas dan terancam, ataupun hidup yang dirundung oleh kuasa kejahatan yang mengikatnya; mampu karena Allah menyertainya. Maka penghiburan kristiani berhubungan erat dengan inti iman dalam seluruh hidup dan dalam menanggung seluruh hidup. Itulah sebabnya bahwa penghiburan yang diberikan oleh Kitab Mazmur begitu “bertahan” di tengah-tengah segala nasib hidup manusiawi. Mazmur-mazmur mampu memberi penghiburan, karena menyediakan bahasa dan ungkapan bagi manusia dalam segala situasi hidupnya; ada mazmur kepercayaan, mazmur ratapan, mazmur permohonan, mazmur pujian, dan sebagainya.
Kitab Ayub memberi nuansa lain dalam memahami makna penghiburan. Penghiburan yang diterima oleh Ayub tidak terletak dalam manusia Ayub yang menerima begitu saja kemalangan yang menghancurkan dia, atau dalam harapannya akan dunia yang lebih baik. Bagi Ayub nasib malang tidak masuk akal, tidak ada artinya, dan tidak adil. Kendati Ayub mengabdi Allah dan percaya kepada-Nya namun dibiarkan hidup dalam penderitaan. Maka Allah pun nampak bukan sebagai penghibur atau Bapa yang murah hati. Namun Allah memperbolehkan Ayub bicara. Bagi Ayub, Allah adalah partner untuk mengeluh dan sasaran keluhannya. Karena ada Allah, kesepian Ayub menjadi medan di mana Ayub menjadi diri sendiri.
Kisah sengsara sepadan dengan kisah penghiburan Ayub. Allah menghampiri Yesus justru dengan tidak turun tangan dan dengan tidak membantu Yesus. Sangatlah mengherankan bahwa penderitaan yang berakhir dengan jeritan putus asa: “Allah, mengapa Engkau meninggalkan Daku?”, di kemudian hari justru menjadi ungkapan yang dengan tidak habis-habisnya menyuarakan pengalaman hiburan manusiawi. Di situlah Allah dialami secara baru, lain dari pada pengalaman Allah sebelumnya. Ia tidak memperlihatkan diri lagi sebagai Allah yang mahakuasa melainkan sebagai Allah yang bersama Yesus ikut mengalami ketidakmampuan dalam kematian.
Pengalaman akan Yesus yang bangkit tidak pertama-tama suatu pewahyuan akan hidup yang akan datang. Peristiwa paska tidak mewahyukan apa-apa tentang hidup yang akan datang. Sebaliknya Kristus yang bangkit mulia hadir dalam dunia manusia dan dalam jaman manusia sekarang. Dengan kata lain kebangkitan Yesus tidak menggambarkan dunia baka, sebaliknya kebangkitan menghantarkan keabadian ke dalam jaman sekarang, dunia baka ke dalam dunia manusia, hidup Allah ke dalam hidup dan kematian manusia. Dengan demikian Allah tampil sebagai akhir segala masa dan batas segala penderitaan; segala sesuatu mendapat batasnya bukan pada dirinya sendiri, melainkan dalam Allah.
Mengalami penghiburan Allah berarti mengalami bahwa Allah sungguh hadir dalam situasi hidup kita sekarang ini. Yesus, sebagai Sabda yang menjadi daging dan tinggal di antara kita, akan tetap menyertai kita sampai akhir jaman. “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan kembali kepadamu” (Yoh 14:18). “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kami. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku,..” (Yes 46:4, 49:16).

Dihibur menjadi penghibur
Yesus mengeluh akan sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.” (Luk 7:32)Demikian juga betapa sering hati kita tidak tergerak sedikitpun akan “tiupan seruling” dan “kidung duka” sesama kita. Sering kita bagaikan Stevanie yang terus menerus hidup dalam keraguan akan makna kehadiran kita bagi orang lain, khususnya bagi sesama yang membutuhkan penghiburan. Pengalaman kita yang telah “dihibur” hendaknya menjadi pengalaman kita untuk “menghibur”. Kita memang boleh ragu untuk hadir bagi sesama kita kalau kita sendiri tidak mengalami penghiburan, yakni pengalaman Allah yang senantiasa hadir dalam hidup kita, yang kadang hanya seperti yang dialami Ayub. Pengalaman akan Allah yang hadir dalam hidup kita hendaknya membawa kita untuk membantu sesama dalam menghayati kehadiran Allah dalam hidupnya yang konkret, entah dalam suka maupun duka, dalam harapan maupun kecemasan. Pengalaman penghiburan ini membuat orang berani menatap hidupnya secara konkret karena Allah menyertai. “Janganlah takut.... Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak membakar engkau”(Yes 43:1-2).

Maka “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama;...(Rom 12:14-15a).

Andreas Suparman SCJ

1 komentar:

  1. Menjadi berkat bagi orang lain dan diri sendiri

    http://terang-jiwa.blogspot.com/

    BalasHapus