Minggu, 13 Maret 2011

Apakah Katolik Sudah Selamat ?


Jaminan Keselamatan?
Ada beberapa topik yang lebih membingungkan mengenai keselamatan. Lebih-lebih pertanyaan standard yang ditanyakan oleh Fundamentalis: “Apakah kamu telah diselamatkan?” Pertanyaan tersebut juga bermaksud: ”Apakah kamu berharap bahwa kamu memiliki jaminan keselamatan?” Evangelis dan Fundamentalis berpikir bahwa mereka memiliki jaminan absolut.

Yang harus dilakukan hanyalah “menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadi,” dan selesai. Mereka mungkin menjalani hidup yang patut diteladani setelahnya, tetapi hidup baik bukanlah hal yang krusial dan pastinya tidak mempengaruhi keselamatan mereka.

Kenneth E. Hagin, seorang evangelis televisi pantecostal yang terkenal dari “Word Faith” sayap dari protestanism, menyatakan bahwa jaminan keselamatan ini datang dengan cara “hidup baru” : “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yoh3:3). Meskipun banyak dari teology Hagin yang dianggap aneh dalam lingkup protestan, penjelasannya mengenai lahir baru dapat didukung oleh jutaan evangelis protestan. Dalam bukletnya, The New Birth (Kelahiran Baru), Hagin menulis, “ Kelahiran baru adalah keharusan untuk diselamatkan. Melalui kelahiran baru, kamu tiba pada hubungan yang benar dengan Allah”

Menurut Hagin, ada beberapa hal yang bukan merupakan lahir baru. “Lahir baru bukanlah: sakramen krisma, keanggotaan gereja, baptisan air, menerima sakramen, melakukan tugas-tugas religius, menerima Kekristenan secara intelektuil, keorthodokan iman, pergi ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, bermoral, beradab, melakukan hal-hal yang baik, melakukan yang terbaik, ataupun hal-hal lain yang dipercaya dapat menyelamatkan.” Mereka yang menerima kelahiran baru “melakukan satu hal yang perlu: menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi dengan cara bertobat dan berbalik kepada Allah dengan sepenuh hati layaknya anak kecil.” Hanya diperlukan satu tindakan berdasarkan kehendak, ia menjelaskan. Tapi benarkah itu? Apakah Alkitab mendukung konsep ini?

Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan akhir seseorang tergantung pada keadaan dari jiwanya pada saat kematian. Sebagaimana Yesus sendiri katakan pada kita,”Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat24:13 ; Mat25:31-46). Seseorang yang meninggal dalam keadaan bersahabat dengan Allah (dalam keadaan berahmat) akan pergi ke surga. Seseorang yang meninggal dalam keadaan permusuhan dan pemberontakan terhadap Allah (dalam keadaan dosa berat) akan pergi ke neraka.

Bagi beberapa fundamentalis dan evangelis, itu tidak membuat perbedaan – sejauh keselamatan yang menjadi perhatian – bagaimana kamu hidup atau mengakhiri hidup kamu. Kamu dapat menuju podium altar, mengumumkan bahwa kamu telah menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi kamu, dan selama anada benar-benar mempercayainya, kamu telah selamat. Sejak saat itu tidak ada lagi yang dapat kamu lakukan, tidak ada satu dosa pun yang dapat kamu lakukan, tidak perduli bagaimana pun mengerikannya, yang dapat membuat kamu kehilangan keselamatan kamu. Kamu tidak dapat melepaskan keselamatan kamu, walaupun kamu menginginkannya.

Tidakkah ini terdengar terlalu indah untuk terjadi? Ya, akan tetapi, ini adalah sesuatu yang diklaim oleh banyak protestan. Lihatlah apa yang dikatakan Wilson Ewin, pengarang buklet “There is Therefore Now No Condemnation (Karenanya sekarang tidak ada hukuman)”. Dia menulis bahwa “seseorang yang menempatkan imannya dalam Tuhan Yesus Kristus dan darahnya mengalir di Kalvary adalah selamanya aman. Dia tidak akan pernah kehilangan keselamatannya. Tidak ada pelanggaran pribadi dari hukum Allah ataupun hukum manusia ataupu perintah Allah yang dapat membatalkan status tersebut.”

“Untuk mengingkari jaminan keselamatan berarti mengingkari penebusan sempurna Kristus,” bantah Ewin, dan ini adalah sesuatu yang dikatakannya hanya karena dia bingung antara penebusan yang dilakukan Kristus untuk kita secara objektif dengan penghargaan pribadi kita atas penebusan itu. Sebenarnya dalam satu arti, kita semua telah ditebus oleh kematian Kristus di kayu salib – Kristen, Yahudi, Muslim, bahkan penganut animisme di hutan yang gelap (1Tim2:6 ; 1Tim4:10 ; 1Yoh2:2) – tetapi penghargaan pribadi kita atas apa yang disiapkan Kristus adalah tergantung atas respon kita.

Yang pasti, Kristus memang mati di kayu salib sekali untuk selamanya dan telah memasuki tempat suci di surga untuk hadir dihadapan Allah mewakili kita. Kristus telah secara berlimpah menyiapkan keselamatan kita, tapi itu tidak berarti bahwa tidak ada proses yang melibatkan kita secara pribadi. Jelaslah, ada (proses), atau (kalau tidak) kita akan diselamatkan dan dibenarkan dari segala keabadian, dengan tanpa perlu bertobat atau memiliki iman atau hal-hal lainnya. Kita telah lahir “selamat”, tanpa perlu dilahirkan lagi. Karena kita tidak (lahir baru), karena adalah perlu untuk mereka yang mendengar Firman untuk bertobat dan menjaganya, ada waktunya dimana kita datang untuk berdamai dengan Allah. Dan karenanya, kemudian kita, seperti halnya Adam dan Hawa, dapat menjadi tidak berdamai dengan Allah dan, seperti anak yang hilang, perlu untuk kembali dan berdamai lagi dengan Allah, setelah meninggalkan keluarganya.

Kamu Tidak Dapat Kehilangan Surga?
Ewin mengatakan bahwa “tidak ada tindakan yang keliru ataupun perbuatan penuh dosa yang dapat mempengaruhi keselamatan seorang yang percaya. Pendosa tidak dapat melakukan apapun sebagai jasa atas rahmat Allah dan begitu juga sebaliknya, ia tidak dapat melakukan apapun sehingga kehilangan rahmat Allah. Benar, perbuatan dosa selalu merenggangkan persahabatan seseorang dengan Kristus, membatasi kontribusinya atas pekerjaan Allah dan dapat menyebabkan hukuman dari Roh Kudus.”

Satu masalah dalam argumen ini adalah bahwa ini bukanlah mekanisme yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Jika seseorang memberi kita sesuatu sebagai rahmat –sebagai hadiah- dan walaupun kita tidak melakukan apaapun yang layak atasnya (walaupun biasanya pemberian diberikan karena kita telah menyenagkan seseorang yang memberikan hadiah), tidak mungkin (diberikan) jika tindakan kita tidak sesuai dengan apakah kita dapat menerima hadiah tsb atau tidak. Kita dapat kehilangannya dengan berbagai cara. Kita dapat salah meletakannya, menghancurkannya atau memberikannya kepada orang lain, mengembalikannya ke toko. Kita bahkan harus menyerahkan sesuatu yang telah diberikan karena di waktu mendatang tidak menyenangkan orang yang memberikannya - seperti ketika seseorang ditunjuk untuk menduduki posisi khusus tetapi kemudian diturunkan dari posisi tersebut karena kesalahan management.

Argumen tidak lebih baik ketika seseorang berbalik pada Alkitab, sebagaimana seseorang dapat menemukan Adam dan Hawa, yang menerima rahmat Allah dengan sikap cara dan keadaan yg menghilangkan karunia bagaikan siapa saja dijaman ini, lebih pastinya telah kehilangannya – dan kehilangan rahmat tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk kita juga. (bdk Rom11:17-24). Ketika ide bahwa apa yang diterima tanpa jasa tidak dapat hilang karena perbuatan menjadi semacam daya tarik yang indah untuk beberapa orang, itu tidak dapat dipertanggungjawabkan ketika dibandingkan dengan hal yang sebenarnya – entah itu dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam Alkitab.

Mengenai masalah apakah seorang Kristen memiliki jaminan keselamatan “absolut”, tanpa perduli tingkah laku mereka, pertimbangkan peringatan yang diberikan Paulus: “Perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Rom11:22 ; Ibr10:26-29 ; 2Pet2:20-21.


Dapatkah Kamu Mengetahui?
Berhubungan dengan masalah apakah seseorang dapat kehilangan keselamatannya adalah pertanyaan apakah seseorang dapat tahu secara yakin sepenuhnya mengenai keadaan keselamatannya. Walaupun jika seseorang dapat kehilangan keselamatannya, seseorang tetap tidak dapat yakin apakah ia pernah dalam keaadaan diselamatkan. Hal yang sama, walaupun jika seseorang dapat yakin bahwa sekarang dalam keaadaan diselamatkan, ia dapat saja kehilangan keselamatannya kelak. “Pengetahuan” atas keselamatan adalah pertanyaan yang berbeda dengan “kemampuuan untuk kehilangan” keselamatan.

Dari pendengar radio Bible Class dapat diperoleh buklet yang berjudul ‘Can Anyone Know for Sure? (Adakah seseorang dapat begitu yakin?)’ Pengarangnya yang anonim mengatakan “Tuhan Yesus menginginkan pengikutnya untuk sangat yakin akan keselamatan mereka sehingga mereka akan lebih gembira dalam penantian akan surga daripada dalam kemenangan duniawi. “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1Yoh5:13)

Saat Alkitab membicarakan mengenai kemampuan kita untuk mengetahui bahwa kita berada dalam keadaan rahmat adalah penting dan harus dianggap serius. Tetapi kita tidak dijanjikan akan dilidungi dari penipuan diri dalam masalah ini. Walaupun pengarang ‘Can Anyone Really Know for Sure? (Adakah seseorang dapat begitu yakin?)’ mengakui bahwa ada keyakinan keliru: “Alkitab Perjanjian Baru mengajarkan bahwa jaminan asli adalah mungkin dan menggiurkan, tetapi juga diingatkan bahwa kita dapat ditipu melalui jaminan keliru. Yesus berabda:’Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.’(Mat7:21)”

Kadangkala Fundamentalis menggambarkan Katolik seolah-olah mereka setiap saat harus berada dalam keadaan ketakutan kehilangan keselamatannya karena Katolik mengajarkan bahwa adalah mungkin kehilangan keselamatan akibat dosa berat. Fundamentalis kemudian berpegang bahwa daripada hidup dalam ketakutan, mereka dapat tenang, yakin mengetahui bahwa mereka akan, faktanya, diselamatkan, dan bahwa tidak ada yang dapat mengubah fakta ini.

Tetapi gambaran ini keliru. Katolik tidak hidup dalam ketakutan abadi mengkhawatirkan keselamatan. Benar, keselamatan dapat hilang akibat dosa berat, tetapi dosa yang demikian adalah mengenai hal-hal yang serius, dan bukan berarti bahwa seorang yang Kristen akan melakukannya secara mendadak, tanpa pemikiran yang hati-hati dan dengan rela. Dan Gereja Katolik juga tidak mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat memiliki jaminan keselamatan. Ini benar baik keselamata saat ini maupun yang akan datang.

Seseorang dapat yakin akan keselamatannya saat ini. Ini adalah alasan utama mengapa Allah memberikan Sakramen kepada kita – untuk menyediakan jaminan nyata bahwa Ia secara nyata memberikan rahmatNya kepada kita. Dan seseorang dapat yakin bahwa ia tidak menyia-nyiakan rahmat tersebut hanya dengan memeriksa diri dan introspeksi apakah pernah melakukan dosa berat. Bahkan, ujian Yohanes yang mengawali suratnya membantu kita mengetahui apakah kita berada dalam keadaan rahmat, pada intinya, ujian apakah kita berada dalam dosa besar. Contohnya,” Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1Yoh3:10), “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh4:20), “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1Yoh5:3)

Seperti halnya, dengan melihat arah hidup seseorang yang dalam keadaan rahmat dan keputusan hatinya untuk tetap mengikuti Allah, seseorang juga mendapat jaminan akan keselamatannya kelak. Adalah Paulus yang mengatakannya ketika menulis untuk umat Filipi dan mengatakan,” Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Flp1:6). Ini bukanlah janji untuk semua umat Kristen, atau bahkan bukanlah hal penting bagi gereja di Filipi, tetapi keyakinan bahwa umat Kristen di Filipi secara umum dapat melakukannya. Dasarnya adalah pekerjaan rohani mereka hingga saat itu, dan Paulus merasa perlu untuk menjelaskan kepada mereka bahwa keyakinannya atas mereka memiliki dasar. Karenanya ia berkata, dengan segera, “Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.” (Flp1:7). Fakta bahwa umat Filipi bekerja secara rohani dengan membantu Paulus sewaktu masa tahanan dan jemaat menunjukan bahwa hati mereka ada pada Allah dan bahwa mereka dapat diharapkan, minimal secara umum, akan tekun dan tetap tinggal dalam Allah.

Ada banyak laki-laki dan perempuan kudus Kristen yang karakternya ditandai oleh kegembiraan dan kedamaian rohani yang dalam. Individu semacam ini dapat menantikan dengan yakin pesta mereka di surga.

Individu semacam ini adalah Paulus, yang menulis pada akhir hidupnya,”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2Tim4:7-8). Tetapi sebelumnya, pada masa hidupnya, Paulus tidak menyatakan jaminan yang tidak dapat salah, entah itu atas pembenarannya saat itu ataupun atas rahmat atas dirinya di masa yang akan datang. Mengenai keadaannya saat itu, ia menulis,” Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.” (1Kor4:4). Mengenai sisa hidupnya, Paulus dengan jujur mengakui bahwa ia pun dapat jatuh: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1Kor9:27). Tentu saja, bagi rohaniwan besar semacam Paulus, adalah tidak terduga dan diluar karakter untuk jatuh dari rahmat Allah. Akan tetapi, ia menunjukan bahwa, bagaimanapun yakinnya ia akan keselamatan dirinya, ia dapat merasa yakin, walaupun ia tidak dapat yakin sepenuhnya tanpa salah akan keadaannya saat itu ataupun arah hidupnya dimasa yang akan datang.

Hal yang sama adalah berlaku bagi kita. Kita dapat, jika hidup kita menunjukan ketekenunan dan buah rohani, memiliki tidak hanya keyakinan mengenai keadaan rahmat kita saat ini tetapi juga ketekunan kita di masa yang akan datang di dalam Allah. Tetapi kita belum dapat memiliki kepastian yang tidak dapat salah akan keselamatan kita sendiri, seperti yang diakui banyak protestan. Ada kemungkinan menipu diri sendiri (bdk. Mat7:22-23). Sebagaimana Yeremia menyatakannya,” Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer17:9). Ada juga kemungkinan jatuh dari keadaan rahmat akibat dosa berat, dan bahkan jatuh dari iman sepenuhnya, sebagaimana yang dikatakan Yesus kepada kita, ada yang “percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.” (Luk8:13). Dengan terang akan peringatan dan nasehat ini, kita harus mengerti pernyataan positif Alkitab mengenai kemampuan kita untuk mengetahui dan memiliki keyakinan akan keselamatan kita. Jaminan mungkin kita miliki tetapi kepastian tidak kita miliki.

Sebagai contoh, Flp2:12 mengatakan: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Ini bukanlah pernyataan akan jaminan yang penuh keyakinan. Keselamatan kita adalah sesuatu yang harus selalu diusahakan.


Apa Yang Harus Dikatakan
“Apakah kamu sudah selamat?” tanya Fundamentalis. Seorang Katolik seharusnya menjawab: “Sebagaimana dikatakan Alkitab saya telah diselamatkan (Rom8:24 ; Ef2:5-8), tetapi saya juga sedang diselamatkan (2Kor2:15) dan saya harap saya akan diselamatkan (Rom5:9-10 ; 1Kor3:12-15). Sebagaimana rasul Paulus, saya sedang mengerjakan keselamatan saya dengan takut dan gentar (Flp2:12), dengan harapan dan keyakinan akan janji Kristus (Rom5:2 ; 2Tim2:11-13)”


NIHIL OBSTAT: Aku telah menyimpulkan bahwa materi yang dipaparkan dalam tulisan ini bebas dari kesalahan doktrinal dan moral. Bernadeane Carr, STL, Censor Librorum, 10 Augustus 2004.
IMPRIMATUR: Berdasarkan 1983 CIC 827 ijin untuk diterbitkan telah diberikan. +Robert H. Brom, Uskup San Diego, 10 Augustus 2004
Terjemahan oleh Ekaristi dari Catholic.com

1 komentar: