Senin, 22 November 2010

St. Bernardinus dari Siena


bernardine-siena

St. Bernardinus dari Siena adalah seorang saudara dina fransiskan, seorang misionaris dan pembaru dalam lingkungan Gereja Katolik. Ia sering disebut juga “Rasul dari Italia” Ia dilahirkan pada tanggal 8 September 1380 dari keluarga bangsawan Albizeschi di Massa - salah satu kota di Siena dimana ayahnya menjadi gubernur. Ia meninggal di Aquila, Abruzzi pada 20 Mei 1444.


Pada usia 6 tahun Bernardinus menjadi yatim piatu dan dididik dengan penuh kasih oleh tantenya. Masa mudanya penuh dengan kesalehan. Pada tahun 1397 setelah mengikuti studi hukum sipil dan kanonik ia bergabung di pertapaan Persaudaraan Bunda Maria yang ada di rumah sakit besar Santa Maria della Scala. Tiga tahun kemudian saat wabah melanda Siena, ia keluar dari hidup pertapaannya untuk melayani orang-orang sakit dan dibantu dengan sepuluh orang rekannya bekerja di rumah sakit tersebut selama empat bulan.

Walaupun usianya relatif muda, Bernardinus membuktikan bahwa ia cocok dengan tugas-tugasnya itu. Namun keterlibatannya dalam pelayanan kesehatan tersebut lama kelamaan memperburuk kesehatannya yang pada akhirnya sulit disembuhkan. Bernardinus kemudian bergabung dengan para saudara dina di Biara San Francesco di Siena pada 8 September 1402 namun pindah ke biara Columbaio yaitu biara para saudara dina dari kelompok observantes yang lokasinya di luar kota Siena. Kaul pertamanya pada tanggal 8 September 1402 dan ditahbiskan imam pada 8 September 1404. Kira-kira tahun 1406, St. Vincensius Ferrer seorang pengkotbah dari Ordo Praedicatorum (OP) meramalkan bahwa mantol jubahnya akan bungkuk merendah kepada seseorang yang akan mendengarkan kotbahnya, dan nantinya dia akan kembali ke Perancis dan Spanyol sehingga memberi kesempatan kepada Bernardinus untuk tugas penginjilan kepada orang-orang Italia.

Hampir 12 belas tahun berlalu sebelum ramalan itu digenapi. Selama itu, yang detilnya tidak tercatat, Bernardinus nampaknya hidup dalam kontemplasi di Capriola. Pada akhir tahun 1417 ia keluar biara untuk berkotbah dan kehidupan misionernya pun dimulai di kota Milan. Demikianlah talentanya dalam berkotbah diterapkan di tiap-tiap kota, dan para warga sangat bersemangat mendengarkannya sampai-sampai ia sering diminta untuk berkotbah di pasar-pasar. Para warga yang mendengarkan kotbahnya kadangkala berjumlah hingga 30 ribu orang. Bernardinus pun perlahan-lahan memberi pengaruh yang besar di tiap kota di Italia yang penuh dengan segala permasalahan dan penuh kemewahan.

Pius II, yang pada masa mudanya adalah seorang pendengar setia kotbah Bernardinus, mencatat bahwa sang santo berkotbah seperti layaknya Rasul Paulus. Dan Vespasiano da Bisticci, seorang biografer dari Florentina yang terkenal, mengatakan bahwa dengan kotbah serta nasehat-nasehatnya Bernardinus “membersihkan seluruh Italia dari semua jenis dosa”. Para peniten, disebutkan, berbaris “seperti semut” untuk mengaku dosa, dan di beberapa kota pembaharuan-pembaharuan yang diminta oleh sang santo telah ditambahkan dalam hukum dengan nama Riformazioni di frate Bernardino. Tentu saja, segala keberhasilan Bernardinus dalam usahanya memajukan moralitas dan hidup kemasyarakatan ini tidak dibesar-besarkan. Sebab dia berkotbah dengan segala kebebasan apostolik. Secara terbuka ia juga mengecam Visconti, seorang bangsawan dari Milan yang bergelimang hidup mewah, dan tanpa takut mengusir kuasa jahat yang telah merusak Quattrocento. Di tiap-tiap kota ia secara efektif mengkritik para wakil pemerintahan yang bergaya hidup mewah sehingga mereka sadar akan segala kesombongan dan kesia-siaannya.

Kegiatan pinjaman dengan memakan riba adalah obyek utama yang juga menjadi kritikan tajam Bernardinus. Untuk melawan ini dia mempersiapkan dengan cermat suatu konsep perhimpunan pinjaman bermanfaat yang dikenal dengan nama Monti di Pieta. Tetapi ditengah semua kritikan tajam dan pedas itu Bernardinus juga membawa kata kunci seperti halnya St. Fransiskus Assisi yaitu “damai”.

Dengan berjalan kaki ia mengelilingi Italia mewartakan damai. Ia berhasil mendamaikan dua pihak yang saling bertikai yaitu Guelph dan Ghibelline. Di Crema, sebagai hasil dari kotbahnya, para kaum buangan politik dipulihkan kembali dan bahkan segala hak kepemilikannya diberikan lagi. Di mana-mana Bernardinus membujuk kota-kota untuk tidak menuliskan lagi coretan-coretan yang mengandung propaganda perang pada dinding-dinding istana dan gereja, dan sebagai ganti meminta menuliskan inisial I.H.S (singkatan dari Iesus Hominum Salvator). Demikianlah ia membawa suatu bentuk baru devosi Nama Kudus Yesus yang merupakan topik favorit pada tiap kotbahnya. Biasanya sewaktu berkotbah ia membawa sebuah papan dan mendirikannya di depannya sementara berkhotbah. Di bagian depan papan itu terpatri ukiran monogram suci berbentuk matahari dengan tulisan I.H.S. Kebiasaan ini nampaknya mulai diperkenalkannya di Volterra pada tahun 1424. Di Bologna, Bernardinus meminta seorang seniman - yang bertobat dari dosa perjudian setelah mendengar kotbahnya - untuk mencari nafkah dengan membuat lembaran monogram bertuliskan inisial I.H.S. Seniman itu memperoleh penghasilan cukup dari hasil karyanya tersebut.

Disamping popularitasnya – atau barangkali lebih tepat disebut “cerita tentang popularitasnya” – Bernardinus juga mengalami penderitaan dalam bentuk perlawanan dan siksaan. Dia dituduh bidaah, lembaran monogram yang digunakannya untuk mempromosikan devosi Nama Kudus Yesus dijadikan dasar serangan oleh penganut Dominikan, Manfred dari Vercelli, yang pengajarannya yang salah tentang antikris telah ditentang oleh Bernardinus. Bernardinus dituduh melakukan profanisasi atas devosi yang membawa orang pada bahaya pemberhalaan, dan disebutkan bahwa ia dihadapkan kepada paus. Ini terjadi pada 1427. Paus Martinus V, menerima Bernardinus dengan dingin dan melarangnya berkotbah atau mempertunjukkan lembaran monogramnya sampai perkaranya selesai diselidiki. Sang santo dengan rendah hati mentaatinya, semua tulisan kotbahnya diserahkan kepada suatu komisi dan ditetapkan hari pengadilannya. Pengadilan dilaksanakan di Basilika St. Petrus, dihadapan paus, pada 8 Juni, Yohanes dari Kapistrano diserahi tugas untuk membela Bernardinus. Sidang diwarnai dengan sikap penuh kebencian terhadap Bernardinus. Namun tuduhan itu semua akhirnya sia-sia karena paus akhirnya membenarkan dan menghargai pengajaran Bernardinus, tetapi memintanya untuk berkotbah di Roma. Sesudah itu, Paus Martinus V mengesahkan pengangkatan Bernardinus sebagai Uskup Siena. Namun sang santo menolaknya. Ia juga menolak jabatan yang sama untuk Uskup Ferrara tahun 1431 dan Urbino tahun 1435 dengan mengatakan bahwa seluruh Italia sudah dianggapnya sebagai keuskupannya.

Setelah terpilihnya Paus Eugenius IV, para musuh Bernardinus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan terhadapnya, namun paus berdasarkan Bulla tertanggal 7 Januari 1432, membatalkan semua tuduhan itu dan dengan demikian memaksa para pemfitnah Bernardus untuk bungkam. Selama Konsili Basil pun tuduhan ini tidak dibuka kembali. Usaha-usaha untuk mempertahankan pengajaran Bernardinus ini diabadikan melalui penetapan pesta Nama Kudus Yesus yang pada awalnya hanya diteruskan sebagai tradisi para Saudara Dina pada tahun 1530 dan kemudian tradisi perayaan ini diperluas di lingkup Gereja Katolik pada tahun 1722.

Di tahun 1433 Bernardinus menemani Kaisar Sigismund ke Roma untuk menghadiri acara pemahkotaannya sebagai kaisar. Segera setelah itu ia pergi ke Capriola untuk menyusun serangkaian kotbah. Dia melanjutkan tugas misionernya di tahun 1436, namun terpaksa melepaskannya di tahun 1438 ketika ia terpilih sebagai vikaris-general (wakil pemimpin umum) para Observan untuk wilayah Italia. Sebenarnya sejak awal hidup religiusnya, Bernardinus sangat tidak ingin memperluas cabang Ordo Saudara Dina ini, namun juga sangat salah mengangkatnya sebagai pendiri Observan karena jika ditelusuri ke belakang Observan sudah ada sejak pertengahan abad keempat belas. Walaupun bukanlah pendiri reformasi Ordo Saudara Dina ini, Bernardinus bagi para Observan dianggap sejajar dengan St. Bernardus bagi para Sistersiensis yaitu sebagai pendukung utama dan pembimbing rohani yang tak kenal lelah.

Sebagian ide dari semangatnya ini mungkin berasal dari kenyataan bahwa jumlah para saudara Observan bertambah menjadi empat ribu setelah Bernardinus meninggal; padahal semasa hidupnya jumlahnya hanya seratus tiga puluh orang saudara. Selain itu semasa hidupnya, Bernardinus juga melakukan pembaruan di banyak biara Observan - sedikitnya ada tiga ratus biara. Bernardinus tak hanya memperbesar jumlah persaudaraan di wilayah lokal. Ia pun mengirim misionaris ke berbagai tempat di Timur. Dan karena usahanya inilah banyak wakil dari beragam bangsa yang berbeda pandangan skismatis menghadiri Konsili di Florence. Di konsili inilah Bernardinus berbicara di hadapan para hadirin dalam Bahasa Yunani.

Pada tahun 1442 setelah memohon kepada paus untuk menerima pengunduran dirinya sebagai vikaris-general agar ia bisa membaktikan diri lebih banyak untuk berkotbah dan disetujui, Bernardus memulai kembali tugas-tugas misionernya. Walaupun pernah dikeluarkan Bulla oleh Paus Eugenius IV pada tanggal 26 Mei 1443 yang menugaskan Bernardinus berkotbah mengenai indulgensi bagi para ksatria yang berperang melawan kaum Turki, namun tidak ada catatan bahwa ia melakukannya. Karena itu tidak ada alasan untuk meyakini bahwa sang santo pernah berkotbah di luar Italia. Pernah disebutkan juga tentang perjalanan misionaris ke Palestina pada salah satu buku riwayat hidupnya. Hal ini pun tidak terbukti dan kemungkinan hanya kekeliruan dalam hal penulisan nama saja.

Dalam tahun 1444 saat kesehatan Bernardinus semakin menurun, ia berkeinginan agar tidak ada satu wilayahpun di Italia yang belum mendengar kotbahnya. Untuk itu ia kembali melakukan penginjilan di Kerajaan Naples. Karena terlalu lemah untuk berjalan kaki, ia terpaksa menunggang seekor keledai. Tetapi karena kelelahan akibat empat puluh tahun terus-menerus melakukan tugas apostolik berkotbah maka akhirnya Bernardinus mengalami demam dan sampai di Aquila dalam keadaan sekarat. Di sana tubuhnya terbaring di tanah dan saudari maut menjemputnya dari hidup di dunia pada malam sebelum Hari Raya Kenaikan Tuhan tanggal 20 Mei, tepat pada saat para saudaranya melantunkan kidung pada waktu ibadat: Pater Manifestavi nomen Tuum homnibus … ad Te venio.

Para pemimpin komunitas Observan menolak untuk memindahkan jenazah Bernardinus ke Siena, dan setelah upacara pemakaman yang agak terburu-buru jenazahnya diletakkan di dalam gereja Konventual. Bermacam-macam mukjizat terjadi setelah wafatnya, dan ia dikanonisasi oleh Paus Nikolas V pada 24 Mei 1450. Pada 17 Mei 1472, jenazah Bernardinus dengan upacara meriah dipindahkan ke gereja baru milik Observan di Aquila, yang secara khusus dibangun untuk tujuan tersebut. Nisannya dipersembahkan oleh Raja Louis XI dari Perancis. Gereja ini hancur karena gempa bumi pada tahun 1703. Namun kemudian gereja ini digantikan dengan bangunan baru yang besar dimana relikwi St. Bernardinus tetap dihormati. Pestanya dirayakan pada tanggal 20 Mei.


Sumber:
Catholic Encyclopaedia Volume II.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar